Home / Cersex / Cersex Bercinta Dengan Wanita Cantik Keturunan

Cersex Bercinta Dengan Wanita Cantik Keturunan

Cersex Bercinta Dengan Wanita Cantik Keturunan – Seketika diriku terbangun akibat suatu kejadian dalam mimpiku. Aku tidak benar-benar mengingat peristiwa dalam mimpi tersebut. Kulihat jam meja yang terletak disebelah kiri kasurku masih menunjukkan pukul 05.00 WIB. Masih terlalu dini untuk berangkat ke kantor. Kuputuskan untuk tetap tidur-tiduran sambil menyusun kegiatan hari ini dalam benakku. Tidak terasa sudah satu jam Saya tidur-tiduran dan kuputuskan untuk mulai menyiapkan diri untuk ngantor. Kubuka lemari baju dan mengeluarkan setelan kemeja warna biru tua dan celana warna coklat kulit serta singlet dalam dan celana dalam boxer favoritku. Lalu kuambil handuk yang terletak di rak handuk sebelah pintu toilet dan langsung masuk ke kamar mandi.

Sesuai perkiraan, Saya tiba di kantor kepagian. Kulihat jam tanganku masih menunjukkan pukul 07.00 WIB dan harus menunggu 1 jam sampai pintu gedung kantorku berada dibuka pihak security. Tepat disebelah post security berdiri seorang wanita. Wanita tersebut berkulit mulus putih, tinggi badan berkisar 160cm, wajah oriental dengan khas mata sipit namun memiliki bulu mata yg lentik. Rambut sebahu dan berwarna hitam. Wanita ini bukan orang asing. Namanya Jenny. Dia bekerja di kantor sebelah dan cukup populer hingga yang kuketahui ada beberapa rekan kerja saya yang diam-diam menyukainya. Dari informasi yang didapat, ia adalah keturunan Tionghua dan lulusan kuliah ternama di negara Singapore.

Saya memberanikan diri mendekatinya dan berniat untuk memperkenalkan diri. Dia menyadari tujuanku dan sudut bibir mungilnya melengkung membentuk sebuah senyuman. Terlihat jelas lesung pipi sebelah kirinya menambah pesona dirinya yang menarik dan ceria. Bukannya membalas senyuman, kaki saya malah menjadi berat dan tidka kuat untuk melanjutkan langkah kaki. Kusadari bahwa tingkahku ini sangat memalukan dan benar saja, senyuman kecil yang sebelumnya berubah menjadi ketawa kecil. Suara tawa yang terdengar manja membuatku semakin terpaku.

“Pagi Mas”, Jenny menyapa sambil tersenyum. “Kepagian juga ngantornya?”, lanjut Jenny.
“Iya ne…, hmm…, Pagi juga” balasku dengan terbata-bata membuat Jenny tersenyum dan mendekatkan diri 2 langkah. Sekarang Jenny berdiri tepat disebelah kananku.
“Mas Sombong nih, Saya sudah kerja 2 bulan disini, Mas tidak pernah menyapa” kata Jenny kepadaku.
“Tidak kok, saya malah ingin ajak Jenny lunch bareng siang ini”, Balasku “Tapi jika Jenny sibuk ya gak pa-pa besok-besok juga boleh” Kata-kata yang keluar begitu cepat dan tidak beraturan. Entah kenapa Saya tidak bisa menguasai diri.
Darahku serasa berhenti mengalir ketika Jenny ternyata menolak ajakanku. “Maaf Mas, jangan siang ini. Jobku sedang dikejar deadline. Sore ini wajib siap”.
“Ohhh…. yaaaa… tentu…” jawabku.
Mendengar jawabanku yang disusul oleh keheningan, Jenny malah kembali tertawa kecil dan berkata “Mas tidak ajak Saya Dinner?”
“Ohh… iya, kita makan malam saja yaa?!…” Kata-kata ku benar-benar kacau dan tidak seperti biasanya.
Jenny tidak menjawab, Ia hanya tersenyum dan malah meminta bertukar nomor telepon.
“Nanti ya Mas, Saya kabar-in lagi via WA saja ya…”, “Pamit Mas, Saya ngantor dulu” jawab Jenny dengan sangat sopan lalu pergi memasuki pintu gedung yang sudah dibuka security.
Pelan-pelan Saya mulai menguasai diri. Darah yang sebelumnya serasa berhenti kembali mengalir. Saya tidak langsung ngantor. Kubiarkan diriku sejenak kembali normal sambil bertanya-tanya apa maksud dan tujuan Jenny yang sebenarnya. Tidak ada jawaban yang kutemukan, lalu kuputuskan untuk ngantor.

Waktu kerja terasa cepat berlalu, kuperhatikan rekan kerja sudah mulai merapikan alat-alat kantor dan file kerjanya. Benar saja waktu sudah pukul 16.47 WIB. Kutunggu hingga pukul 17.01 WIB sambil utak-atik HP. Teringat ajakan Jenny yang belum memberikan kepastian. Perasaanku kembali gelisah memikirkan kelanjutan dari hubungan pertemananku dengan dia. Mengingat tingkah laku anehku pagi tadi, serasa berat untuk melanjutkan hubungan ini. Cukup memalukan mengingat diriku juga seorang yang cukup populer dikantorku. Beberapa ajakkan kencan rekan kerja wanita kutolak.

Sudah Pukul 17:03 WIB, saatnya pulang kantor. Mengingat tidak ada kegiatan malam ini kubiarkan diriku berjalan pelan-pelan ke parkiran dan menuju mobil kantor yang menjadi kendaraanku. Kuhidupkan mesin mobil dan kubiarkan sejenak sambil menunggu kondisi mesin stabil. Handphone bunyi menandakan pesan masuk, perasaan gelisah kembali menyapaku. Saat kubaca isi pesan tersebut. Benar saja, ini pesan dari Jenny dan berisi ,”Jemput Saya di tempat kita berjumpa tadi pagi.” Tanpa membalas pesan tersebut, langsung kujalankan mobil ini menuju tempat yang dimaksud yang bertepatan tidak jauh dari tempat parkir mobil.

Dari jauh sudah nampak Jenny berdiri. Kali ini penampilannya berbeda. Ia tidak lagi memakai jas kantornya. Ia memakai kemeja putih yang kancing bagian atas dibiarkan terbuka. Kuberhentikan tepat pintu penumpang ke depan posisi Jenny berdiri. Tanpa ragu-ragu Jenny membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil. Jenny kembali melemparkan senyuman yang berlesung pipinya. Diriku kembali terpaku. Tidak… tidak kali ini. Diriku berontak melawan kondisi ini.

Perlawanan ini membuahkan hasil dan untuk pertama kalinya diriku sanggup berbicara dengan normal.
“Kita makan dimana Jen?” kataku. “Ke apartemenku saja, dekat sini kok. Saya masakin. Oke? Balas Jenny.
“Wow..” tenggorokanku seakan tercekik tidak sanggup melanjutkan kata-kata. Kali ini Jenny hanya tersenyum dan membiarkan suasana dimobil menjadi hening.

Sesampainya di halaman parkir apartemen Jenny yang memang hanya butuh waktu 15 menit perjalanan dari kantor.
“Yuk” kata Jenny sambil bergegas buka pintu. Saya mengikutinya dan keluar buka pintu. Saat pintu lift apartemen terbuka, Jenny mulai menggandeng tanganku dan menarikku masuk lift. Kali ini Saya tidak berontak, kubiarkan diriku mengikutinya. Suasanya begitu hening hingga suara dengung mesin lift dan suara pintu lift terbuka dapat terdengar.

Sesampai di ruang tamu apartemen, Jenny mulai menciumku dengan lembut. Bibirnya yang tipis membelai bibir bawahku. Kubalas ciumannya dengan melumat bibir atasnya dengan lembut. Jenny kembali membalas dengan gigitan lembut pada bibir bawahku. Ini menandakan Jenny menyukainya. Serangan kedua kulancarkan, tangan kananku meremas payudaranya. Kini Jenny membalasnya dengan desahan pelan. Mendengar desahannya, nafsuku semakin liar. Sambil melumat habis bibirnya, kubimbing Jenny ke sofa dan kutidurkan. Sengaja kuhentikan sejenak ciumanku dan kutatap wajahnya yang sudah memerah. Matanya tetap merem tetapi tangannya meremas lembut penisku yang sudah mengeras sejak awal ciuman. Kubuka kemejaku dan kemeja putih Jenny. Tangan Jenny semakin liar dan membuka paksa kancing celanaku. Kubantu Ia membuka celanaku hingga tubuhku benar-benar bugil. Giliran Jenny yang bangun dan mulai menjilati ujung penisku. Kali ini Diriku yang mendesah. Desahanku membuat Jenny semakin liar. Jilatan liar yang sebelumnya menjadi kuluman lembut. Rasa hangat dan geli bercampur membuat tubuhku sedikit mengejang. Jilatan, kuluman dan belaian lembut Jenny tergabung dan menghasilkan sensasi luar biasa. Lidah sangat mahir mengenai titik-titik rangsangan. Kuluman yang liar namun waspada terhadap gigi diiringi kocokan lembut terhadap batang penisku.

Kurenguh dagunnya dengan kedua tangan dan kucium lembut telinganya sambil berbisik “Gantian”. Mendengar bisikanku, Jenny tersenyum kecil sambil melepaskan pakaiannya. Setelah bugil, Ia pun memposisikan diri terlentang kembali di sofa. Mata merem, senyuman kecil berlesung pipit sambil selangkangan kakinya dibuka lebar menandakan ia siap menerima seranganku. Kumulai dengan belaian lembut pada bulu halus vaginanya. Lalu kulanjuntkan dengan jilatan lembut sambil kugerakkan kepalaku keatas dan kebawah. Jenny kembali mengerang dan menjambak rembut rambutku dengan kedua tangannya. Kulumat lembut bibir vaginanya sambil kujilati. Kali ini reaksi Jenny mengejang hebat. Kedua tangannya sampai membenamkan wajahku ke vaginanya.

Kuhentikan jilatanku setelah kurasakan tubuh Jenny melemas. Bibirnya kembali kulumat. Jenny membalas dengan pelukan mesra. Kugesek penisku di bibir vaginanya. Tubuh Jenny kembali mengejang. Kali ini pelukannya semakin kuat dan berbisik :”Masukin Sayang”. Mendengar panggilan Sayang dari Jenny benar-benar mengubah segalanya. Sentuhan awal yang didasari atas hawa nafsu berubah menjadi sentuhan cinta. Ya… Saya mencintainya. Saya mencintainya tanpa ada alasan. Tangan Jenny Membimbing penisku ke arah lubang Vaginanya. Ternyata vagina Jenny masih sempit dan hangat.
Terdengar rintihan pelan Jenny yang menandakan kesakitan. Kutarik kembali penisku tetapi ditahan Jenny dan sambil berbisik :”Lanjut Say…”
Begitu mendengar bisikannya kulanjutkan dengan lebih lembut, lebih hati-hati dan pelan hingga penisku masuk secara keseluruhan. Tidak ada lagi rintihan kesakitan. Desahan Jenny benar-benar menambah sensasi kenikmatan. Kami bersetubuh berdasarkan cinta, ini bukan nafsu. Kuyakin Jenny juga demikian, reaksi dan belaian Jenny menandakan ini cinta.

Akhir hubungan-badan ini kami tutup dengan pelukan. Cumbuan mesra dan belaian mewakili kata-kata kasih sayang yang tak terucapkan. Jenny ketiduran dalam dekapanku. Kutatap wajahnya sambil bersyukur atas segala yang terjadi hari ini dan berjanji menjaga segalanya hingga akhir hayat hidupku.

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *